mengapa amerika

Pertanyaan klasik yang terus muncul entah dari dosen, teman atau sekedar orang asing yang dikenal di kereta atau bus biasanya adalah ‘kenapa sih mengambil American studies?’ dan believe it or not, it is just such a hard question. Sulit, karena ketika hal ini ditanyakan kenapa ya otak ini tidak bisa langsung memberikan runtutan alasan yang jelas dan straight to the point. Justru yang melayang-layang di otak adalah putaran alasan dan kalimat-kalimat yang sulit dirangkai. Kemudian, ketika dipaksakan diucapkan, yang bertanya justru mengerutkan kening, bingung, sebingung kita yang kadang malah sekenanya menjawab ‘wah gak tau juga nih’ hehehehe.
Tentu dalam memilih sesuatu kita dilingkupi oleh dua pemikiran, praktis dan esensial. Kalo secara praktisnya tentu saja karena jurusan ini masih satu nafas dengan latar belakang pendidikan sebelumnya, misalnya sastra inggris atau pendidikan. Ya asal terkait sedikit dengan yang berbau inggris, ya cukuplah untuk mengaitkannya. Pemikiran praktis kemudian tentu saja berhubungan dengan bidang pekerjaan yang sedang dijalani atau target pencapaian tertentu dimasa depan (dosen, misalnya). Nah masalah yang timbul kemudian adalah hal esensial yang kadang menjadi kabur. Saya teringat ucapan salah satu dosen di pengkajian Amerika yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri. Jadi yang saya simpulkan, kalau kita masih dalam tataran memikirkan bahwa pendidikan harus dikaitkan dengan pekerjaan, maka kita belum melihat kehidupan didalam pendidikan itu sendiri. Kita tidak memiliki nafasnya, kita tidak memegang jiwanya dan kita kehilangan semangatnya.
Pembahasan mengenai apa yang esensial dari sebuah pendidikan saya dapatkan sekitar setahun yang lalu ketika berdiskusi dengan teman seangkatan. Terkait dengan dua alasan diatas, penggunaannya tergantung dengan siapa kita berhadapan. Uniknya, Ketika berhadapan dengan diri sendiri maka gunakan keduanya. Bahwa dalam memutuskan mengapa kita kuliah mengambil jurusan tertentu kalaulah dikaji secara pragmatisnya tentu karena bidang itulah yang akan membawa kita kepada kepastian karir, masa depan atau apalah namanya. Dan tentu pula bisa dikaitkan dengan masa lampau yang telah kita jalani. Konsep linear inilah yang secara paradox dibutuhkan oleh kekinian keadaan. Bahwa yang linear adalah yang terbaik, memilih untuk membelokkan langkah hanya akan menjadi bentuk pembinasaan diri karena pintu kepastian yang sudah ditawarkan akan menutup tiba-tiba.
Alasan mendasar atau bisalah dikategorikan alasan filosofis yang saya rasa menjadi bahan renungan yang menarik sekaligus menohok. Temanku mengatakan, yang ia kutip juga dari perkataan seorang filsuf lain, bahwa jika kita mendalami sesuatu yang kecil dengan sebaik-baiknya maka pada akhirnya kita akan mengenali diri sendiri….bukankah manusia terus berjuang seumur hidupnya hanya untuk mengetahui siapa dirinya, bagaimana ia ada dan untuk apa eksistensinya dimunculkan diantara jutaan eksistensi lain yang menjadi kesehariannya selama hidup. Dan dengan menguasai hal kecil itulah maka kita akan sampai pada titik kesadaran penuh mengenai jati diri kita. Bukankah seseorang baru bisa mengenal tuhannya jika ia telah mengenal dirinya?
Kadang timbul pemikiran alangkah rumitnya konsep diatas, bahkan untuk sekedar mengetahui siapa diri kita saja meski berputar putar dalam sekian stigma dan pembelajaran. Tapi ini memang kembali pada pespektif orang yang uniknya memiliki pendekatan yang berbeda. Ada yang pragmatis, yang tidak akan merepotkan dirinya dengan pertanyaan menjlimet semacam itu. Bagi mereka hidup ya apa yang sedang dijalani, apa yang ada didepan mata dan sudah puas dengan identitas kekinian yang melekat pada dirinya, seperti pekerjaan, sikap dan keadaan. Ketika ditanya, siapakah anda? Maka kaum pragmatis akan menjawab saya budi, pekerja bank yang rajin dan hidup saya sudah bahagia dengan calon istri yang akan saya nikahi bulan depan.
Lalu bagaimana dengan kaum filosofis? Tuhan mengkaruniakan kelebihan imajinasi dan pikiran serta pertanyaan yang bahkan oleh mereka sendiripun kadang dianggap bodoh dan berlebihan. Mereka ingin menjalani hidup yang sederhana tapi pikiran yang melintas di otak mereka terlalu menggoda untuk diabaikan begitu saja dan mereka ingin mengkaji lebih lanjut. Dan pada akhirnya mereka tenggelam pada pemikiran tentang eksistensi, sesuatu yang akan anda temui dalam buku dunia sophie, misalnya. Anehkah mereka? Tidak. Karena mereka juga manusia biasa yang tidak selalu bergumul dengan ide ide gila dan tidak penting seperti itu. Mereka menjalani hidup seperti biasa dan bahkan terkadang mentertawakan kebodohan mereka. Tapi yang harus diingat bahwa akan ada fase dan waktu yang ,sekali lagi saya tekankan, menggoda mereka untuk berpikir jauh kedalam sanubari mereka. Itu saja.

Lalu yang menjadi masalah kemudian adalah dengan hilangnya jiwa pendidikan itu, maka hilang pula jiwa dan semangat sebenarnya yang hendak direfleksikan oleh jurusan ini. Jujur saja kita seperti kehilangan orientasi. Kuliah ya hanya sekedar kuliah tanpa pernah menggali lebih dalam mau dibawa hubungan kita dan jurusan ini hehehe. Bukti nyatanya? Pembahasan mengenai Pak Miller dan Pak Parrington nyatanya belum benar-benar terpatri diluar kepala. Kita masih bingung dengan pembahasan mengenai dedengkot Amstud itu, sehingga nampaknya tiga semester belum cukup untuk mengenal mereka luar dalam.
Jadi, mari kita refleksikan semangat itu melalui tulisan-tulisan di blog ini. Mari jadikan blog ini tempat berbagi pengetahuan dan mengasah ketrampilan menulis dan menajamkan sudut pandang serta melebarkan pemahaman dengan pengkhususan pada Kajian Amerika.

1 Comment »

  1. amstud2009 Said:

    Mantap bro, layak naik cetak… bravo Amstud 09!!!


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: