Amerika: sebuah peradaban dan perubahan

AMERIKA
*sebuah peradaban dan perubahan*

a. From old world to new world

Amerika yang kini dikenal sebagai negara adidaya dan adikuasa di hampir segala bidang, seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, pun memerlukan perjalan dan proses yang panjang untuk bisa mencapai posisinya sekarang. Amerika bukanlah Yunani, negara penghasil filsuf-filsuf pencetus mahakarya seperti Plato dan Socrates. Bukan pula negara bangsawan keturunan dewa yang berhak memperoleh nasib baik seperti Inggris dan Prancis dengan monarki absolutnya. Amerika ada karena kerja keras para pendirinya.

Peradaban di Amerika dipelopori oleh 13 koloni pertama yang dikenal sebagai US first settlers. 13 koloni ini mecakup Rhode Island , Connecticut , New Hampshire, New York, Delaware, New Jersey, Pennsylvania, Maryland, North Carolina, Georgia, South Carolina, Massachusetts, dan Virginia. 13 koloni awal yang berasal dari Inggris ini mengalami perjuangan yang begitu berat untuk dapat bertahan di tanah baru. Apabila di Inggris dahulu para pendatang yang sebagian besar merupakan kaum bangsawan tidak terbiasa bekerja diladang, maka ditanah baru mereka harus mulai bekerja dan bertempur. Mereka harus menghadapi penolakan penduduk lokal yaitu kaum Indian, dan juga ditambah cuaca buruk yang menyebabkan kelaparan dan penyakit mematikan. Namun dengan keteguhan hatilah, mereka bertahan. Mimpi yang membuat mereka bertahan adalah mimpi akan kebebasan dan harapan hidup yang lebih baik di tanah baru. Empat golongan kelompok pendatang ini terdiri dari kaum pilgrim dan puritan yang mencari kebebasan beragama, kaum bangsawan yang tidak memiliki gelar, tanah dan kekuasaan di tempat sebelumnya, kaum kriminal dan pekerja kasar yang bermimpi mendapat nasib yang lebih baik, lalu kemudian juga datang kaum imigran yang berasal dari Asia maupun Afrika.

Nafas perjuangan pendatang di amerika dikenal dengan istilah Frontier. Dalam bukunya yang berjudul “the significance of the frontier in American History”, Frederick Jackson Turner ingin menegaskan betapa pentingnya semangat frontier dalam proses terbentuknya Amerika menjadi sebuah negara yang merdeka dan lepas dari otoritas Inggris. Frontier yang dimaksudkan disini bukan hanya batas geografis sebuah wilayah. Frontier adalah semangat discovery; yaitu semangat pembaharuan hidup dan pembukaan lahan baru. Lalu yang kedua adalah semangat individualism; yaitu semangat melawan aristokrat, monopoli dan penghambatan kesempatan bagi setiap individu, dan terakhir adalah semangat revolutionary; yaitu semangat revolusi, pembebasan ketidakadilan dan kesamaan hak. Ketiga hal pokok yang diusung dalam nafas frontier ini yang nantinya menjadi cikal bakal lahirnya demokrasi yang dicetuskan oleh Thomas Jefferson dalam US Declaration of Independence, “all men are created equal”. Untuk menjamin kebebasan tiap individu pulalah yang mendasari Amerika memisahkan urusan agama dan urusan negara. Denominasi dan aliran aliran kepercayaan tumbuh subur di Amerika.

Amerika sebagai sebuah negara yang menghargai sejarah, menempatkan 13 koloni awal ini sebagai bagian yang terpenting dalam kehidupan bernegara mereka. Hal ini dapat dibuktikan apabila kita mencermati bendera negara ini. 13 koloni awal disimbolkan dalam bentuk 13 garis vertikal yang melintang sepanjang bendera, dan menjadi dasar dari 50 bintang yang melambangkan 50 negara bagian yang tergabung dalam Amerika serikat hingga detik ini.

b. From melting pot to salad bowl

Siapakah orang amerika itu?

Sebuah pertanyaan yang singkat, namun tentu saja memerlukan jawaban yang panjang dan kompleks untuk ditelaah. Penduduk dan warga negara Amerika berasal dari berbagai macam ras, etnis dan suku bangsa. Amerika bukan hanya mereka kaum mayoritas WASP, white, anglo saxon protestant yang berasal dari eropa, namun juga kaum pendatang yang akhirnya memilih menjadi warga negara amerika. Dalam buku “Pendidikan Kewarganegaraan” karangan tim dosen UGM, dijelaskan pengertian dan perbedaan antara penduduk dan warganegara. Setiap warganegara adalah penduduk sebuah negara, sedangkan setiap penduduk belum tentu warganegara, bisa juga pendatang ataupun orang asing. Negara menjamin hak-hak setiap warganya, hal ini berlaku pula di Amerika. Meski warga negara amerika berasal dari berbagai macam etnis dan ras, mereka tetap berhak mendapatkan persamaan hak dan perlakuan di semua bidang. Bukan hanya bagi kaum mayoritas semata. Namun, apakah hal ini berjalan sempurna?

Semenjak masa bercocok tanam hingga industrialisasi, Amerika banyak menyerap pekerja asing untuk dijadikan buruh dan pegawai. Sebut saja kaum kulit hitam dari Afrika, kaum hispanik dari Meksiko, Puerto rico, dan sekitarnya, lalu juga kaum keturunan asia seperti cina dan India. Amerika memerlukan banyak pekerja asing dikarenakan biaya yang murah dan kemudahan akses. Kenyataan inilah yang menyebabkan banyak pendatang dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong datang ke Amerika. Amerika dengan American Dream-nya bagaikan magnet yang menawarkan taraf hidup yang lebih baik. Bagi mereka yang beruntung, bisa menjadi warga negara resmi Amerika. Namun apabila kenyataan berkata sebaliknya, mereka harus puas dengan status imigran gelap saja.

New York adalah salah satu wilayah multietnis terbesar di Amerika. Pertemuan berbagai etnis di Amerika ini dulu dikenal dengan istilah melting pot, yaitu bermacam macam etnis dilebur menjadi satu kesatuan yang dianalogikan menjadi sebuah pot yang sama sekali baru, bernama Amerika. Namun dengan berjalannya waktu, dirasa istilah melting pot tidak lagi sesuai untuk mewakili kondisi Amerika di masa sekarang. Hal ini sudah sempat digagas oleh Nathan Glazer dan Daniel Patrick Moynihan pada tahun 1960an melalui buku mereka yang berjudul Beyond The Melting Pot : the Negroes, Puerto Ricans, Jews, Italians, and Irish of New York City.

Memang, kenyataan bahwa para pendatang dari berbagai etnis berubah menjadi kelompok baru yang berbeda dari leluhur mereka di tanah asal, benar adanya. Sebagai contoh misalnya kaum kulit hitam yang menetap di Amerika pasti berbeda dari para leluhur mereka di Afrika, baik dari budaya, pola pikir maupun cara hidup. Mereka membentuk identitas baru sebagai kaum Afrika Amerika. Yang menjadi bahan kritik disini adalah kenyataan bahwa etnis dan ras adalah sesuatu hal lahiriah dan tidak bisa diubah. Munculah ide istilah salad bowl sebagai gantinya, yaitu berbagai etnis bercampur menjadi satu dalam sebuah wadah bernama Amerika tanpa kehilangan identitas mereka sebagai bagian etnis tertentu.

Dalam perkembangannya, ada beberapa hal yang patut dicermati sebagai akibat dari percampuran berbagai etnis dalam sebuah kesatuan negara. Hal ini perlu dikaji secara mendalam karena pada kenyataannya, keberadaan etnisitas seseorang akan dibarengi pula oleh label dan stereotype yang terlanjur melekat dalam cirri etnis tersebut. Seperti misalnya kaum kulit hitam dilabeli sebagai kaum malas dan kurang berpendidikan, kaum asia dipandang sangat “eksak” dan antisocial, lalu kaum hispanik yang sering dianggap criminal dan penipu. Stereotype – stereotype diatas menjadi sangat fatal karena kecenderungan manusia yang suka men-generalisasi sesuatu hal. Kenyataan ini yang pada akhirnya memunculkan sikap Rasisme.

Rasisme sebagai sebuah ideology dimunculkan secara nyata melalui tindakan diskriminasi dan prasangka (prejudice). Rasisme digunakan oleh orang-orang berpikiran sempit untuk membenarkan tindakan negative mereka terhadap kelompok dari etnis lain. Diskriminasi sendiri bisa berupa attitudinal discrimination berupa ejekan, kekerasan dan serangan fisik. Ataupun institutional discrimination berupa aturan dan kebijakan yang memberikan efek negative dan kerugian terhadap seseorang hanya karena dia tergabung dalam etnis grup tertentu. Meski institutional discrimination tidak menyebabkan luka fisik, namun efek yang ditimbulkan sangat fatal dan berkesinambungan. Masalah rasisme ini pun dialami oleh Amerika sebagai bangsa yang menjujung tinggi kebebasan dan kesamaan hak. Apabila berlanjut, bisa mengancam demokrasi itu sendiri.

3. From pure capitalism to the role of the government in a free society

Amerika adalah negara yang menganut paham kapitalisme dalam proses perekonomian. Kapitalisme secara general dipahami sebagai sebuah mahzab ekonomi yang memberikan kekuasasaan seluas-luasnya pada pemilik modal untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya dari pemanfaatan alat produksi yang dimiliki. Dari sini kapitalisme tampak sempurna. Mereka yang bekerja keras, mereka yang mendapat hasilnya. Namun, apabila dilihat secara mendalam, akan nampak adanya pihak yang dirugikan dalam kapitalisme. Alat-alat produksi adalah hak penuh seorang pemilik modal, dan dalam kapitalisme pemilik modal berhak memanfaatkannya demi keuntungan mereka. Alat-alat produksi sendiri terdiri dari constant capital misal mesin mesin pabrik, dan variable capital yaitu buruh dan pekerja pabrik. Hasilnya, buruh sebagai bagian dari alat produksi mengalami eksploitasi besar-besaran yang tidak setara dengan apa yang mereka dapatkan.

Kapitalisme di Amerika tidak lepas dari ajaran ekonomi Adam Smith. Beliau adalah pelopor kapitalisme. Inti ajaran dalam kapitalisme Adam Smith adalah “jika tiap individu bekerja keras, maka akan menghasilkan kelompok yang unggul”. Ciri paling utama adalah individualisme. sedangkan ciri-ciri lainnya adalah :
1. Full employment – memanfaatkan semaksimal mungkin
2. Perfect competition – untuk menghasilkan inovasi dan kreasi perlu kompetisi
3. Private property – reward bagi mereka yang bekerja keras (pemilik modal semata)

Kaum kulit putih yang banyak diuntungkan dalam kapitalisme menggunakan justifikasi “meritocratic ideology” sebagai pembenaran eksploitasi mereka. Bahwa mereka berhak atas special privilege karena mereka telah bekerja keras. Kesuksesan adalah pilihan. Sedangkan kaum papa yang bernasib sebagai buruh miskin adalah pilihan mereka sendiri karena bermalas-malasan. Ideologi ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Karena kaum buruh yang sebagian besar kulit berwarna, bukan hanya gagal karena kemalasan. Namun karena diskriminasi yang sangat integral dan sistematis.

Sebagai akibat dari great depression yang melanda Amerika pasca PD II, kapitalisme murni malah menjadi boomerang bagi proses produksi. Kapitalisme murni yang anti campur tangan pemerintah menyebabkan Amerika dilanda krisis berkepanjangan. FDR yang menjabat presiden pada masa itu mulai mencanangkan beberapa program untuk mengatasi krisis. Disinilah titik tolak mulainya campur tangan pemerintah dalam proses perekonomian Amerika yang lalu dikenal dengan istilah ‘the role of the government in a free society”. Dalam perkembangannya, pemerintah bertindak sebagai wasit atau umpire. Umpire disini berbeda dengan referee. Dalam kapasitas sebagai wasit umpire, pemerintah hanya bertindak sebagai pengawas diluar arena dan tidak ikut dalam permainan. Hal ini diupayakan untuk menghindari korupsi dan pemanfaatan jabatan.

Dalam perekonomian Amerika dewasa ini, pemerintah juga bertanggung jawab dalam beberapa hal yang tidak ditangani oleh swasta, misalnya taman kota, jalan raya dan beberapa fasilitas umum yang tidak membawa keuntungan seperti perpustakaan daerah dan imunisasi. Pemerintah juga memiliki fungsi paternalistic. Yaitu bertanggung jawab atas kelompok-kelompok yang butuh bantuan (tidak bisa merepresentasikan diri sendiri) seperti single mother poverty, homeless people, invalid, dan elderly poor. Fungsi pemerintah menjadi sangat penting dalam perekonomian Amerika dewasa ini, namun tentu masih dalam koridor free market n free society.

4. From isolationism to global activism

Dalam bahasan yang keempat, penulis mencoba menelaah peran Amerika dalam kancah perpolitikan dunia. Bagaimana Amerika memilih menarik diri atau ikut andil dalam hubungan internasional.
Pada awalnya, Amerika tampil sebagai negara yang cenderung mengisolasi diri dari percaturan politik dunia, namun pada PD II mereka terpaksa memilih andil karena beberapa alasan, yaitu kapal yang diserang Jerman dan penyerangan Pearl Harbor. Sejak PD II itulah amerika mulai memperkuat kesatuan militer mereka. Lawan Amerika selanjutnya adalah komunisme yang dipelopori Uni Soviet beserta negara-negara sekutunya. Amerika dengan ideology anti komunis membentuk blok barat untuk melawan gempuran komunisme. Amerika menjadi lawan utama Uni Soviet dalam perang ideology yang disebut perang dingin. Dalam politik global activism, Amerika berperang melalui kebijakan politik luar negerinya.

Sesuai dengan buku “Hubungan Internasional: Kerangka Studi Analitis”, setiap negara berusaha menegakkan atau mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam forum masyarakat internasional lewat politik luar negeri, yang dilaksanakan dan atau dipengaruhi oleh berbagai aparat pemerintahan maupun berbagai kekuatan politik dalam negara. (Dr. Budiono Kusumohamidjojo, hal 33)

Organisasi pelaksana politik luar negeri tidaklah sama susunannya ditiap negara; namun pada umumnya organisasi ini mengenal susunan dengan stratifikasi sebagai berikut :
a. Pimpinan eksekutif tertinggi : tergantung system pemerintahan yang dianut, dapat merupakan presiden (Indonesia, AS) atau perdana menteri (Malaysia,Uni Soviet)
b. Para pejabat tinggi di bidang politik luar negeri : menteri luar negeri, menteri pertahanan, kepala dinas intelejen
c. Lembaga-lembaga negara (komisi luar negeri parlemen) dan lembaga pemerintahan (departemen luar negeri), departemen ketahanan, dinas intelejen, duta besar.

Adapun sasaran dari politik luar negeri menurut Frankel pada hakekatnya ialah : mewakili, menegakkan, membela, memperjuangkan dan memenuhi kepentingan nasional dalam forum hubungan internasional. Kepentingan nasional merupakan prinsip yang fundamental dalam kerangka politik luar negeri.
Sedangkan menurut sifatnya, sasaran politik luar negeri dapat dibedakan menjadi
– Ideologi : sikap anti komunis atau terorisme
– Politik : politik bebas aktif, ASEAN
– Militer : Aliansi,dll
– Ekonomi: swasembada, orientasi ekspor

Sedangkan instrumen-instrumen politik luar negeri adalah :
1. Diplomasi atau tugas mewakili negara secara politis
2. Hukum internasional sebagai konsensus normatif
3. Organisasi internasional misal PBB
4. Tehnologi persenjataan
5. Tindakan ekonomi
6. Propaganda (bisa melalui film dan music)
7. Intervensi

Namun, pada perkembangannya, yang perlu disesalkan adalah kecenderungan amerika saat ini yang merasa punya hak untuk menjadi polisi dunia. Dengan menggunakan pembenaran penyelamatan dunia, Amerika terkadang kelewatan dalam memberangus pihak-pihak yang dirasa mengancam maupun berseberangan ideology dengannya. Hal paling factual adalah sikap amerika terhadap Islam dan negara muslim pasca peristiwa 9/11. Amerika seakan menjadi paranoid dan gelap mata dalam tindakan-tindakannya, dan terutama kebijakan luar negerinya, yang semakin radikal dan destruktif.

*AGNES YUDITA LARASATI*
amstud 2009

1 Comment »

  1. amstud2009 Said:

    keep the post going ! this is very cool agnes ! mari kita gairahkan scholarship among american studies student.
    I specifically salute the sub chapters of your writing.
    great choice of title !

    o ya, numpang di komen buat agnes boleh ya… buat semua teman yang nantinya berkontribusi (harus kontribusi dong) mohon periksa fitur di wordpress ini yang memungkinkan kita memenggal tulisan sehingga hanya 2-3 paragraf saja yang di halaman muka dan ada tautan untuk melanjutkan.
    Hal ini dimaksudkan agar tampilan muka banyak berisi berbagai judul artikel dan artikel lengkap dapat diakses secara pribadi oleh orang yang ingin membaca.

    terima kasih🙂

    lots of love for agnes and all of you,

    sakdiyah


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: