masih pantaskah amerika menjadi pemimpin dunia

Judul diatas mengandung dua arti besar. Pertama, penggunaan kata ‘masih’ mengimpilkasikan suatu keadaan yang terbarukan, artinya suatu situasi yang dulunya pernah terjadi dan yang saat ini dipertanyakan.

Kita bahas dengan konsep pertama mengenai situasi ‘kepemimpinan’ amerika yang harus didudukkan sejarahnya. Beberapa orang keberatan dengan istilah ‘pemimpin dunia’ yang disematkan pada Amerika, entak karena murni ketidaksukaannya pada sepak terjang Amerika atau memang karena didalam pemikirannya kata ‘pemimpin’ yang sedianya memiliki arti positif justri tidak mampu ditunjukkan oleh Amerika.

Namun, lepas dari itu semua, nampaknya kita harus mendudukkan dan memperjelas istilah ‘pemimpin’ itu dengan meniliknya dari sejarah. Amerika sebagai pemimpin dunia bukanlah suatu hiperbola, itu adalah fakta yang merupakan consensus atas sebuah tragedy besar yang terjadi pada era pasca perang dunia ke 2. Negara-negara yang dulunya merupakan negara adidaya karena memiliki kelengkapan dan faktor pendukung seperti kedigdayaan ekonomi dan militer, yang membuatnya pantas untuk dikategorikan demikian, seperti jerman, perancis, inggris atau bahkan jepang, ironisnya menjadi negara-negara yang babak belur sebagai hasil dari perang bertahun-tahun yang menghabiskan begitu banyak sumber daya dan energy mereka. maka di titik nadir itulah, muncul Amerika sebagai negara yang ‘sempurna’. Mengapa dikatakan sempurna? Karena disaat negara lain sibuk menambal sulam luka yang terlanjur mereka ciptakan, Amerika justru sampai di titik terbaiknya sebagai negara yang paling produktif. Kesempurnaan itu juga didukung dengan aksi-aksi ‘kepahlawanan’ yang entah disengaja atau tidak berhasil ditunjukkan oleh Amerika, yaitu dengan memposisikan dirinya sebagai negara pengayom dengan mendukung dan membantu perwujudan kedaulatan beberapa negara di dunia.

Amerika dengan moral groundnya berhasil mentasbihkan dirinya dan mencitrakan negaranya sebagai sebuah negara yang ideal. Hal ini dikukuhkan melalui perjanjian Brettenwood yaitu perjanjian antar negara pasca perang dunia ke 2 yang secara aklamasi mendukung penunjukan Amerika sebagai pemimpin dunia.

Tapi era terus berganti. Mengambil pepatah using tapi tetap efektif hingga sekarang, bahwa segala sesuatu itu seperti roda yang berputar, maka Amerika kini sampai di keadaan yang memaksa mereka harus mengakui bahwa kedigdayaan mereka tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak dapat disaingi. Kemerosotan ekonomi, kemerosotan kepercayaan komunitas dunia pada Amerika dan masalah-masalah didalam negerinya menjadi tolok ukur bahwa negara kuat ini harus legowo mengakui bahwa situasi sudah berubah. pesaing-pesaing mereka bermunculan dengan raihan ekonomi dan kestabilan politik yang ‘mengancam’ eksistensi Amerika sebagai pemimpin. Cina menjadi contoh paling konkrit dibelahan bumi Asia. Lalu kemandirian Jerman menjadi catatan tersendiri dalam perkembangan berikutnya, bahkan Rusia juga mencatat perkembangan yang baik dengan pembangunan dan pengembangan energy bumi dan diplomasinya. Lalu bagaimana posisi Amerika?

Harus diakui bahwa Amerika saat ini sedang berjuang keras dalam dua hal. Pertama, memperjuangkan ekonominya yang masih terlilit masalah ditandai dengan tingkat pengangguran kurang lebih 10%. Lalu masalah kedua adalah mengembalikan kepercayaan dunia kepada mereka. kepercayaan bahwa Amerika bukanlah negeri aggressor yang dengan egoisnya menghantam negara lain dan menganggap negaranya lah yang paling benar. Mengapa kepercayaan itu begitu penting? Karena kekuatan Amerika melalui tindakan hard power-nya terbukti mengalami masalah demi masalah ketika terus dijalankan di lapangan, sementara soft power yang mereka miliki melalui hegemoni budaya juga mengalami kemunduran meski tidak signifikan.

Seorang penulis, Emmanuel Todd yang mengkhawatirkan kondisi Amerika dimasa mendatang, menyatakan bahwa Amerika akan mengalami masalah jika tetap doing business as usual. Ia berpesan bahwa sudah seharusnya Amerika mengubah pola pendekatannya terhadap dunia dengan tidak lagi memandang ‘kedigdayaan semu’ yang (dulunya) mereka miliki, tapi seharusnya Amerika menyadari perubahan situasi di dunia yang ditandai munculnya negara-negara ‘adidaya’ baru. Amerika diminta untuk kembali ke posisi sempurnanya eperti yang ditunjukkannya pada decade perang dunia ke dua dan setelahnya. Dengan memposisikan diri seperti itu, maka Amerika akan terhindar dari situasi yang lebih buruk. Menurut pendapat penulis, Amerika didalam pandangan Todd dianalogikan seperti orangtua yang harus mengalihkan perhatiannya untuk merawat tubuhnya yang sedang bermasalah daripada menghabiskan energinya untuk terus mengejar karir…

Rahmat Fajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: